Seperti biasanya, saat musim hujan Jakarta selalu dilanda banjir, entah dari ritual 5 tahunan, 3 tahunan, 1 tahunan, bahkan lama kelamaan mungkin bisa bulanan dan harian seperti surat kabar. Aneh, kota metropolitan sebesar Jakarta yang merupakan ibukota negara, koq tidak dapat menyelesaikan masalah banjir. Bahkan diramalkan, jika curah hujan tidak kunjung berkurang, dalam beberapa hari kedepan ini, istana Merdeka -sebuah tempat yang seharusnya menjadi tempat kebanggaan bangsa Indonesia, karena tempat berkantor nya orang nomor satu di RI untuk memikirkan masalah2 di negara kita ini- akan terkena banjir. Sungguh suatu keadaan yang sangat memalukan. Dimana kita taruh muka kita jika sampai ditayangkan di berbagai media di luar negeri, baik surat kabar maupun televisi, istana negara Republik Indonesia terkena banjir. Lah kalau presidennya saja kebanjiran, apalagi warga nya ya… Ups, semoga itu semua hanya mimpi buruk yang tidak akan terjadi.
Suatu pagi saat saya sedang berolahraga pagi di lingkungan rumah saya di daerah Lippo Karawaci, saya terkejut melihat di rumput sepanjang jalan utama terdapat lubang2. Setelah saya amati, ternyata itu adalah lubang resapan (biopori). Wah, saya salut juga dengan pengembang Lippo Karawaci ini, mereka sangat memperhatikan keseimbangan lingkungan. Bahkan jika penghuni menebang pohon yang ada di halaman rumahnya (pohon yang memang sudah disediakan oleh pengembang), akan dikenakan denda. Pohon2 begitu banyak ditanam di sekitar area perumahan. Memang sekilas terlihat gelap dan suram di malam hari. Tapi di balik itu semua membuat kenyamanan, mengurangi polusi, menurunkan suhu udara dan terlebih mencegah banjir. Saya sempat melihat2 perumahan di sekitar Serpong, yang terlihat mewah, gemerlap, dengan jalan utama yang sangat – sangat lebar, Wow.. Tapi setelah saya perhatikan, ternyata mereka lebih mementingkan penampilan daripada keseimbangan alam. Pohon2 yang ditanam lebih terlihat untuk hiasan ketimbang fungsi resapan air. Sehingga saya memutuskan untuk tidak mengambil rumah di tempat tersebut.
Andaikan semua pengembang melakukan hal ini, dan juga setiap masyarakat lebih sadar lingkungan, mestinya Jakarta dapat terhindar dari banjir. Sebenarnya sudah sejak jaman pendudukan Belanda, Jakarta sudah dipersiapkan jalur airnya, mengapa ? Karena Belanda sudah memahami bahwa di Jakarta ini memang perlu pengelolaan tata kota terutama saluran air yang baik, kalau tidak mau terkena banjir. Namun beberapa ratus kemudian malah seakan2 itu semua sudah tidak dipikirkan lagi. Mal berdiri dimana2, Ruko2, apartemen berdiri seolah tidak perduli dengan kondisi yang semakin parah. Sebenarnya semua dapat dimulai dari diri kita sendiri, mulai dari hal yang kecil2 saja. Lihat dulu pekarangan Anda, adakah resapan air yang tersisa ? Apakah semua sudah ditutup dengan keramik dan semen ? Lalu kemana air harus dibuang ? Semua dialirkan ke saluran air ? Coba mulailah membuat pekarangan2 kecil, akan lebih baik lagi kalau menambahkan lubang resapan.
Kita semua berharap, Jakarta menjadi kota yang ramah lingkungan. Sehingga tidak akan terjadi seperti yang tadi saya alami, hanya karena hujan kecil saja, Jakarta langsung lumpuh, macet disana-sini karena banjir, pohon tumbang.. Ah memang indahnya Jakartaku…
Have a nice day…
Silahkan klik 