Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Pandangan hidup’ Category

Sekedar sharing saja, tanpa bermaksud promosi karena saya tidak ada hubungan apa-apa dengan Kompas Gramedia group. Saya pribadi sejak kecil gemar untuk datang ke toko buku, khususnya Gramedia. Mengapa ? Karena kalau di toko buku yang lain, bukunya dibungkus plastik atau diletakkan di dalam rak yang tidak dapat kita lihat secara langsung (harus melalui pegawai toko), tapi di Gramedia hampir seluruh bukunya tidak dibungkus plastik, kecuali buku-buku yang harganya mahal. Sehingga pengunjung dapat melihat isi buku dan membaca sekilas sebelum membelinya.

Tapi waktu saya kecil, dimana tidak memiliki cukup uang untuk membeli buku-buku yang saya gemari, maka cukup meluangkan waktu beberapa jam dan kaki yang kuat untuk membaca di tempat. Tidak pernah ada larangan, teguran dari pegawai toko. Bahkan terkadang saya sempat keluar toko untuk makan/minum, setelah itu masuk ke toko lagi untuk melanjutkan bacaan saya. Dengan cara ini saya dapat menimba ilmu secara gratis.. (jaman dulu belum ada internet). Syaratnya adalah : jangan melipat buku, membuka halaman buku dengan rapi, jangan duduk di lantai, pokoknya cukup tahu diri lah.

Bahkan saat ini toko buku Gramedia dibuat lebih nyaman lagi, toko yang lebih besar, buku yang lengkap, bahkan tersedia kursi yang empuk. Memang saat ini kalau saya ke Gramedia, saya sudah tidak bisa meluangkan waktu terlalu lama, tapi saya melihat banyak orang yang melakukan ritual ‘baca gratis’ seperti yang saya lakukan dahulu, tanpa ada keberatan dari pegawai toko. Bahkan yang lebih unik lagi, saya sempat melihat seorang Ibu yang  duduk dengan santai di lantai toko, mengeluarkan catatan dan sepertinya mengerjakan PR / tugas untuk pelajaran anaknya.

Dengan demikian, toko buku Gramedia turut berkontribusi dalam mencerdasan dan memajukan bangsa ini. Bravo Gramedia…. !!!

Read Full Post »

doctor1Masih berhubungan dengan posting saya sebelumnya
Saat teman saya perlu dilakukan tindakan operasi segera, karena menyangkut hidup dan mati, rumah sakit menyodorkan perkiraan biaya sebesar 60 juta rupiah, itu belum termasuk biaya kamar dan obat. Sangat menyulitkan karena teman saya dan juga keluarganya bukan berasal dari kalangan yang mampu. Dan semua teman2 pun pasti tidak dapat menutupi biaya sebesar itu. Terkadang terlintas dalam pikiran kita, wah rumah sakit dan dokter sekarang semuanya komersil, mana rasa kemanusiaan nya ? Bukankah tugas mereka adalah mulia, yaitu menyelamatkan manusia dari penyakit yang diderita. Tapi mengapa semua harus diukur dengan uang?

(more…)

Read Full Post »

Seringkali kita diperhadapkan pada situasi: ada orang yang tidak kita kenal yang meminta pertolongan kita. Contoh sehari-hari adalah para pengamen dan pengemis yang meminta-minta sedekah di lampu merah. Saya termasuk dari golongan yang mengatakan “Jangan memberi ikan, lebih baik memberi kail”. Karena dengan memberi sedekah kepada orang-orang tersebut, kita akan membenarkan tindakan mereka tersebut, dan membuat mereka makin malas… Hhmm apakah itu hanya pembenaran yang kita cari-cari ?

Tapi saya juga termasuk dalam golongan yang tidak memberi kail kepada mereka. Saya tidak mau memberi ikan, tapi ternyata juga tidak memberi kail.. Huh, tragis bukan ?? Kembali mencari pembenaran.. Bagaimana mau memberi kail, kan tidak ada waktu.. hal itu sering dijadikan alasan. Melalui yayasan ? Ah, apakah mereka benar menyalurkannya ? Karena banyak selentingan berita yang mengabarkan bahwa organisasi-organisasi kemanusiaan tersebut seringkali menghambur-hamburkan dana yang mereka dapat untuk kegiatan operasional mereka secara mewah.. Ah lagi2 mencari pembenaran.

Saya cukup kagum dengan salah satu keluarga (yang masih ada hubungan keluarga dengan istri saya). Mereka tinggal di Bali, dan saat kami berjalan-jalan ke pasar Badung untuk membeli oleh2 salak bali, saya terkejut karena hampir semua pedagang di pasar mengenal saudara saya ini. Dan ternyata, beliau ini mengambil anak-anak pasar sebagai anak asuhnya. Mereka disediakan baju, sepatu, tas dan perlengkapan lainnya. Bahkan mereka disiapkan makanan setiap harinya, dibawakan ke pasar untuk dibagikan ke anak-anak pasar. Tiap minggu, beliau membuka rumahnya untuk menampung anak-anak pasar. Disediakan guru (diambil dari sekolah internasional), untuk memberikan pendidikan kepada mereka. Anak-anak pasar tersebut bebas bermain di rumah beliau, makanan & minuman disediakan, dan bebas untuk dikonsumsi siapa saja yang datang kesana.

Saat di pasar, kami sempat bertemu dengan beberapa anak asuhnya. Mereka terlihat sangat akrab dan manja dengan saudara saya ini, dan memanggilnya dengan panggilan “bunda”. Lalu anak-anak ini membawakan barang belanjaan kami untuk dipanggul, karena mereka bekerja sebagai ‘pembawa belanjaan’.

Saat kami ke pantai Sanur, saya terkejut lagi karena saudara saya ini memberikan beberapa ratus ribu kepada pedagang di pantai itu. “Sudah lama tidak bertemu, dulu saya sering memberikan bantuan kepada ibu itu”, demikian kata saudara saya.

What ?? Saya berfikir dan coba beragumen sendiri, apakah mungkin orang-orang tersebut hanya memanfaatkan kebaikan hati dari saudara saya ini ? Apakah dia sudah memberikan ‘kail’ yang benar ? Hhmm, mungkin lagi-lagi itu hanya pembenaran dari saya sendiri agar tidak perlu repot-repot melakukan hal itu. Tidak memberi ikan dan juga tidak memberi kail… Sungguh egois ya.

Apakah perlu menjadi orang kaya dulu ? Hmm, kalau saya lihat, saudara saya tersebut pun tidak terlalu kaya. Masih banyak orang-orang yang lebih kaya yang saya kenal, yang mobilnya lebih banyak dan rumahnya lebih besar, tapi juga tidak melakukan tindakan untuk memperhatikan sesama.

Saya pernah mendengar mengenai organisasi Tzu Chi yang sukses mendirikan rumah susun di Kapuk Muara. Menurut saya, itu adalah cara yang baik. Setahu saya, mereka memberikan fasilitas rumah, pendidikan dan sebagainya kepada rakyat miskin, tapi penghuni diwajibkan untuk mematuhi tata tertib. Jadi mereka dipaksa untuk menjaga kebersihan, ketertiban. Kalau melanggar mereka harus keluar. Mereka tetap harus membayar sewa, tapi ada program pelatihan. Para penghuni diajarkan untuk menjadi orang yang produktif, sehingga  dapat menghidupi biaya kehidupan mereka sendiri, bukan hanya menunggu sedekah saja. Andaikan ini dibuat dalam skala yang lebih besar (nasional), maka kemiskinan di Indonesia perlahan-lahan pasti dapat dikikis.

Memang kalau kita menolong penuh dengan pamrih, akan banyak sekali pertimbangan-pertimbangan yang pada akhirnya akan membuat kita membatalkan tindakan kita. Jadi jangan pikir panjang, bantulah semampu kita, tanpa pamrih apapun, tidak perlu menunggu kita siap, karena tidak akan pernah ada kondisi ‘siap’ itu..

Selamat menolong…

update per 2011: Saat saya berlibur lagi ke Bali, ternyata saudara saya ini sudah semakin diberkati melalui usaha anak2nya. Rumahnya di Bali sangat besar, mewah dan dilengkapi dengan kolam renang. Dan beliau masih terus membantu orang2 yang tidak mampu dan kaum manula…
GBUA

Read Full Post »